Kurasi Portofolio: 10 Proyek yang Akhirnya Lolos Filter
Akhir pekan ini saya duduk serius dan melihat isi folder d:/coding/ — tempat saya menyimpan semua eksperimen, tugas kuliah, proyek klien, dan script iseng selama beberapa tahun terakhir. Ada 12 folder utama dengan lebih dari 80 subfolder.
Pertanyaannya sederhana: dari semua ini, mana yang benar-benar layak saya tampilkan di portofolio?
Aturan Main
Sebelum mulai, saya tetapkan filter yang tegas:
- Bukan karya saya = keluar. Folder yang berakhiran
-master(ciri khas ZIP dari GitHub) langsung saya buang. Clone dengan modifikasi kecil pun tidak saya anggap layak. - Hampir semua proyek scraper bukan karya saya. Kecuali
absen-autodannutrisight scrape— dua ini memang saya bangun dari nol. - Tidak ada Python di portofolio. Bukan karena Python-nya jelek, tapi karena saya memposisikan diri sebagai web/full-stack developer. Pembersih.py saya sayang, tapi bukan di portofolio.
- Proyek tutorial tidak masuk. Folder
udemi/,Scrimba/, danfrontend_lama/5)brocode/— semuanya mengikuti kursus, bukan solusi dari masalah saya sendiri. - Versi duplikat → ambil yang paling matang. Contoh: MVP Translation punya 4 iterasi (v1-v4). Hanya v4 yang masuk; v2 yang pernah jadi
translator backendsudah saya pensiunkan.
Dengan filter ini, angka 80+ turun drastis.
Hasil Akhir: 10 Proyek, 3 Tingkat
Tingkat 1 — Flagship
Tiga proyek ini masuk ke semua format portofolio (CV, website, GitHub pinned, lamaran magang):
- absen-auto — Bot otomatis absensi SimKuliah UNSYIAH. Node.js + TypeScript, MongoDB, Puppeteer, Docker, Jest. Ada race condition testing dan migration script — bukti engineering rigor.
- wa-file-transfer — Bot WhatsApp yang terima foto/PDF, compress, lalu serve via website dengan login. Node.js + Next.js 14 + Appwrite + Baileys + sharp. Complete dengan runbook dan CI/CD.
- konten analitik — Tool analitik TikTok Studio. React 19 + Cloudflare Workers. Privacy-first (kalkulasi client-side), pakai AI untuk rekomendasi. Produk jadi, bukan latihan.
Tingkat 2 — Strong Supporting
Empat proyek ini masuk ke website dan lamaran magang:
- Nutrisight (konsolidasi) — Landing + backend + pipeline enrichment GPT-4 + scraper dengan R2. Empat folder yang sebenarnya satu sistem end-to-end.
- MVP Novel Translator — Penerjemah novel bulk dari berbagai bahasa ke Bahasa Indonesia dengan context-aware per fandom. Contoh: novel fanfiksi China dari fandom Korea akan dikenali dan diterjemahkan dengan glossary yang tepat. n8n + GPT-4.1 + PostgreSQL + frontend Express.
- Kroeng Community Showcase — Website komunitas Kroeng untuk menampilkan ke luar apa yang bisa dilakukan anggotanya. Next.js 15 + Supabase.
- MJD testing — POS restoran multi-tenant dengan 5 role. Masih WIP, tapi arsitekturnya solid.
Tingkat 3 — Additional
Tiga proyek ini masuk grid "more" di website portofolio:
- portofolio (situs yang sedang Anda baca ini) — Next.js 15 + markdown. Meta.
- culture-x — Frontend Culture X. Perlu saya lengkapi dokumentasinya.
- konsi tech — Platform konsultasi teknis. Split frontend/backend, perlu finalisasi.
Yang Dibuang
Sisanya (sekitar 70 folder) ditolak dengan alasan berikut:
- Semua
-master: handwriting-synthesis, AO3Scraper, HandSynthGUI, reddit-like-comments, twitter-clone, testing-main, dan lainnya — clone dari GitHub. - Scraper eksternal: google-maps-scraper, wattpad-scraper, lightnovel-crawler.
- Kode kursus: udemi, Scrimba, brocode, fundamental HTML/CSS/JS.
- Skeleton kosong atau eksperimen kecil: playground, tes, scripts utility, starter template.
- Script Python (positioning diri).
- Proyek klaim orang lain yang masuk ke folder saya (HIMATEKTRO-USK, Bot Orang).
Pelajaran dari Proses Ini
Hal yang paling saya sadari: jumlah besar tidak sama dengan substansi besar. 70 folder yang saya buang bukan berarti waktu terbuang — dari sana saya belajar fundamental, eksplorasi, dan membentuk preferensi tech stack.
Tapi untuk portofolio, jujur lebih baik daripada banyak. Kalau saya tampilkan 50 proyek campur-campur, recruiter harus menebak mana yang benar-benar karya saya. Kalau saya tampilkan 10 dengan cerita jelas, mereka tahu persis siapa saya sebagai developer.
Langkah Selanjutnya
- Deploy proyek Tingkat 1 yang belum live.
- Tambahkan README lengkap + screenshot/demo di repo Tingkat 1-2.
- Konsolidasi repo Nutrisight (4 folder → 1 umbrella).
- Tulis case study per proyek Tingkat 1 — blog ini akan jadi rumahnya.
- Lengkapi deskripsi Culture X dan Konsi Tech sebelum publish.
Kalau Anda juga pernah bingung milah folder coding/ sendiri, saya sarankan: mulai dengan filter orisinalitas yang tegas. Sisanya akan mengatur diri sendiri.